Sebuah Renungan di KA Malam Ekonomi

Sabtu 28 Maret 2009, 19.45

KA itu berangkat membawa tubuhku pergi dari Solo menuju ke kota harapan. Di dalam gerbong kereta yang penuh sesak itu kulihat tubuh2 lelah dan penuh harapan meninggalkan kampung halaman maupun kembali kepada keluarganya. Hm,,,aku pun duduk diantara orang2 yang telah sarat pengalaman akan kehidupan ini, terlihat dari kerut2 di dahinya dan juga rambut hitamnya yang telah memudar. Dia terlelap di sampingku, tak menghiraukan keberadaanku. Dan akhirnya kujalankan juga sholat Isya di atas kereta itu, karena aku tadi tertidur ketika di stasiun.

Sabtu 28 Maret 2009, 20.00

Sosok tua itu terbangun, dan dengan ramah menyapaku. Hm, ternyata sebuah sambutan hangat ini membuka percakapan panjang. Dan dari sini pula aku baru tau kalau aku salah naik kereta. Lalu dia dengan bijaksana memberi nasehat dan petunjuk yang bermakna. “Lebih baik nanti turun di Jogja aja, Menyambung kereta yang ke Bandung. Biasanya jam 21.30 kereta ke Bandung baru datang.” Nasihat ini membuatku tenang, akupun tak menyangka bisa salah kereta, meksud hatiku ingin ke Bandung tetapi justru menaiki kereta ke Jakarta. Dalam benakku mulai mengambil pelajaran dari pengalaman ini. “Jangan tidur saat menunggu kereta di stasiun!!”

Sabtu 28 Maret 2009, 20.15

Akhirnya dengan ucapan terima kasih kepada orang yang berjasa itu, akupun mmeninggalkan kereta dan turun di stasiun Tugu. Yang pertama kutuju di stasiun Tugu adalah seorang penjaga yang duduk dengan santai ditemani sebatang rokok. Tak segan aku bertanya kedatangan kereta ke Bandung, Beliaupun menjawab “Belum datang mas, biasanya jam 20.45 dari Solo, mungkin sampai di sini jam 21.15an. Ditunggu saja mas.” beliau mengakhiri jawaban itu dengan menawarkan sebatang rokok, namun aku menolaknya dengan halus. Di stasiun ini aku menyempatkan diri untuk mengisi pulsa, dengan uang 11 ribu aku mendapatkan pulsa 10 ribu. Hm,,, mungkin ada yang menganggap pulsa seharga 11 ribu adalah murah, namun dengan uang yang tinggal 25 ribu ini aku sedikit berat juga untuk membayarnya. Yup, aku berangkat denga uang saku 60 ribu, setelah terpotong untuk tiket KA 26 ribu, dan juga untuk membeli sedikit bekal untuk sekedar mengisi perut menyisakan 25 ribu di dompet. Kini uang itu tersisa 14 ribu, kupikir ini cukup untuk sekedar naik angkot 3kali menuju kos.

Sabtu 28 Maret 2009, 21.20

Kereta ke Bandung itu datang, tak sabar aku menaikinya. Ku menyusuri gerbong dari depan hingga gerbong paling belakang. Tak satupun kursi yang tersisa untukku. Aku mulai berpikir, inilah saatnya untuk berdiri selama 12 jam. Namun tiba2 mimpi buruk itu sirna, seorang bapak yang sebelumnya mengatakan bahwa kursi telah terpakai memberikan tempat di sampingnya. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada beliau. Di dalam kereta yang penuh sesak ini terlihat pedagang asongan yang mencoba mengais nafkah dengan cara yang halal. Dari menjual minuman, batik bahkan blangkon. Namun aku mulai miris saat melihat seorang bapak tua (mungkin usia 70an) menghampiriku menawarkan kaos. Aku terpana, andaikan ada cukup uang aku tentu akan membelinya untuk membantu beliau. Entah, mengapa orang tua itu menjual kaos di atas kereta. Jika dia keluargaku tentu aku akan menganjurkan beliau di rumah saja, bercengkerama denga cucunya dan tidak perlu susah payah untuk menjajakan barang dagangannya.

Setelah sekian lama berjalan, entah sampai dimana, entah saat ini pukul berapa, aku sangat ingin sekali tidur dan mengistirahatkan tubuh lelah ini. Namun tampaknya mata ini berkata lain, kucoba memejamkannya namun tak pernah bisa aku menyinggahkan pikiranku ke alam mimpi.

Minggu 29 Maret 2009,??

Entah pukul berapa saat ini, aku telah mematikan hp untuk menghemat baterai(mungkin sekitar pkul dilihat dari jam tangan bapak yang duduk di sampingku 00.30) kereta ini sampai di stasiun Gombong. Tak ada yang spesial di stasiun ini selain menunggu kereta berangkat. Kereta ini mengantri rel, itulah yang dikatakan bapak itu. Yup, kereta ekonomi memang harus selalu mengalah kepada kereta2 mewah lainnya. Dan hal ini juga akan terjadi di stasiun2 selanjutnya.

Akhirnya kereta pun berangkat lagi. Tiba2 aku melihat pemandangan yang sangat miris. Hatiku menangis saat melihat seorang anak (mungkin berusia 6-8 tahun) membawa sebatang sapu, dan membersihkan kolong2 kursi penumpang. Yah, anak itu mencari nafkah dengan membersihkan gerbong. Aku tak tega melihat pemandangan ini. Dia mulai berjalan menghampiri kursi ini, dan mulai menyapu sampah2 yang ada di bawahku. Mataku tak bisa melepaskan setiap gerakan darinya, aku benar2 berduka. Aku telah menyiapkan sehelai uang untuk kuberikan kepadanya, namun ternyata dia begitu saja meninggalkan tempatku tanpa menghiraukan tanganku yang telah mengulurkan sehelai uang ribuan ini. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, namun aku pun merasa sedih saat dia mulai kembali kepada pekerjaannya. Apakah dia punya keluarga?Dimanakah orang tuanya?Apakah orang tuanya tau anaknya bersusah payah mengais sampah di kereta untuk sekedar mendapatkan uang saku? Seharusnya dia sudah di rumah, tidur dengan nyenyak dan mempersiapkan sekolahnya esok pagi. Aku mulai malu dengan dirinya, aku seorang mahasiswa. Setiap saat menghabiskan uang saku untuk sekedar mencari kesenangan. Setelah habis pun aku tinggal minta orang tua. Sungguh memalukan diriku ini.

Minggu 29 Maret 2009, 04.00

Entah ini ada dimana, aku mendengar adzan Subuh yang memanggilku untuk melaksanakan kewajibanku sebagai makhluk Allah. Aku beranjak dari tempat dudukku dan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Kulaksanakan kewajibanku ini ditempat dudukku, dan ternyata bapak yang diampingku juga melaksanakan hal yang sama. Ternyata masih banyak orang baik di dunia ini.

Setelah sekian jam menempuh jalan besi ini, kereta telah sampai di stasiun Tasikmalaya. Kereta ini mulai lengang, dan akupun pindah tempat duduk yang kosong di sampingku. Tiba2 seorang bapak datang dan duduk di hadapanku. Percakapan hangat 2 generasi berbeda dan 2 budaya yang berbeda pun dimulai. Dengan segelas kopi yang kubeli percakapan ini semakin hangat. Ku mencoba menawarkan roti yang ku bawa dari solo, namun bapak itu menolak dengan halus. Beliaupun juga menawarkan sebatang rokok Dji Sam Soe kepadaku, akupun hanya tersenyum dan beliau pun tahu apa jawabku. Ternyata bermulai dari stasiun ini juga Allah membuka hatiku. Dari sini lebih banyak lagi orang2 yang mencoba mencari rizki, mulai dari penjual nasi, snack, minuman, rokok, hingga sekedar meminta belas kasihan penumpang. Entah berapa banyak uang yang ku keluarkan untuk sekedar meringankan beban hidup mereka, aku tidak peduli lagi dengan sisa uangku.

Minggu 29 Maret 2009, 06.30

Bapak yang duduk dihadapanku itu akhirnya turun meninggalkan kereta dengan senyuman dan sapaan yang manis. Dan akhirnya setelah semalaman terjaga, aku mulai bisa tidur walaupun hanya sekedar 10 menit saja.

Minggu 29 Maret 2009, 07.00

Kereta berhenti lagi,, menunggu jatah menggunakan rel ini. Dari sini kulihat orang tua yang tak mampu lagi untuk melihat. Di dalam gerbong beliau membacakan Surat Yasin untuk sekedar mencari nafkah. Alunan suaranya yang merdu menusuk hatiku, beliau menghafal surat ini dengan sangat baik. Sedangkan diriku yang masih muda dan fisik masih bagus, tak kunjung bisa menghafal ayat2 suci ini. Kuberikan selembar uang dari sisa2 uang sakuku. Dan beliau pun mencucapkan terima kasih, seraya berdoa. Aku kembali terpana mendengarkan doa dari orang tua ini, sebuah doa yang memilukan. Sebuah doa yang sangat merendahkan diri di hadapan-Nya. Beliau kembali melangkah untuk membuka hati para penumpang lain dengan bacaan ayat suci itu.

Minggu 29 Maret 2009, 08.10

Usai sudah perjalananku ini. Pemberhentianku di stasiun Kiaracondong, aku turun dengan penuh tanya. Dengan sisa uang 9 ribu, aku beranjak meninggalkan stasiun menuju kos.

Banyak pelajaran yang aku dapati di atas kereta itu. Ternyata masih banyak orang baik di sekitarku, masih banyak orang yang secara ikhlas memberikan sedikit kelonggarannya untuk saling membantu, dan masih banyak juga orang yang terlantar di negeri ini.

Sebaiknya para penguasa yang duduk di pemerintahan dan juga para calon penguasa membuka hatinya akan hal ini. Mereka berebut kekusaan untuk menambah kekayaannya, sedangkan disekitarnya masih banyak orang yang kekurangan. Anak kecil yang dengan susah payah mengais sampah untuk mendapatkan uang saku, orang tua yang terlantar mencari nafkah di atas kereta, anak muda yang seusiaku pun tanpa segan menjajakan barang dagangannya, dimanakah keluarga mereka?Adakah orang yang menantikannya di rumah?Adakah orang yang menyayanginya?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.